Rumah Sunting Pekanbaru Gelar Nongkah, Tadarus Puisi, dan Santunan Anak Yatim

Suasana Tadarus Puisi yang digelar Sunting Pekanbaru. Foto: Ist

PojokTIM – Komunitas Seni Budaya (KSB) Rumah Sunting Pekanbaru kembali menggelar Nongkrong Bertuah (Nongkah) atau podcast ala Rumah Sunting, Tadarus Puisi, Santunan Anak Yatim, dan Berbuka Bersama pada Jumat (6/3/2026) di Beskem Rumah Sunting, Jalan Tigasari, Tangkerang Selatan, Bukitraya, Kota Pekanbaru. Sederhana saja. Mereka duduk melantai dengan panggung kosong berlatar spanduk kegiatan.

Kegiatan tersebut merupakan program tahunan Rumah Sunting sejak tahun 2015. Tidak hanya di Beskem Rumah Sunting, kegiatan ini juga pernah dilaksanakan di kampus dan di kampung. Bahkan, kerap kali digelar di ruang terbuka seperti di Danau PLTA, Tepian Sungai Subayang, Danau Tanjung Putus Buluhcina, dan masih banyak tempat lainnya.

Hadir dalam kegiatan tersebut keluarga anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni di Riau serta para donatur, di antaranya Kepala Balai Bahasa Riau Umi Kulsum, S.S., M.Hum, pejabat Balai Bahasa Riau Dr. Bambang Kariyawan, Ahlul Fadli dari Walhi Riau, peserta Literasi Konservasi Kampung Bandar, peserta Literasi Konservasi Tangkerang Selatan, peserta Literasi Konservasi Malako Kociak Rimbang Baling, Koordinator LPE Riau Muhammad Aprianda, Muhammad Asqalani EnEste, Mulyati Umar, tokoh masyarakat setempat, serta keluarga besar Rumah Sunting.

Founder KSB Rumah Sunting, Kunni Masrohanti, menjelaskan kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Ramadan, kecuali santunan anak yatim yang baru dilaksanakan pada tahun 2025 dan 2026.

“Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan kegiatan ini setiap tahun. Khusus santunan anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni, ini tahun kedua. Kami sangat berterima kasih kepada para donatur yang telah membuka hati untuk bersama-sama berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim ini. Tanpa donatur, sulit bagi kami untuk melaksanakan ini. Semoga kami bersama para donatur bisa melaksanakan ini kembali di tahun-tahun berikutnya. Sungguh, kami hanya sebagai penggerak dan pembuka jalan,” kata Kunni.

Pada kesempatan itu Umi Kulsum yang juga salah satu donatur, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan Rumah Sunting tersebut. Ia berharap kegiatan ini akan terus dilaksanakan sebagai upaya ikut memajukan kesusastraan dan memperluas dampaknya, khususnya bagi generasi penerus.

“Kami sangat bangga karena kegiatan ini berangkai-rangkai. Ada Nongkah yang sebelumnya saya juga hadir sebagai pembicara, lalu Tadarus Puisi, Santunan Anak Yatim, dan Berbuka Bersama. Rumah Sunting menjalankan caranya sendiri untuk menyebarkan dampak sastra dengan lebih luas kepada orang lain, terutama anak-anak. Ada juga anak-anak dari kegiatan Literasi Konservasi dan hampir semua membaca puisi dalam Tadarus Puisi ini. Mari terus bergerak dan berkolaborasi,” kata Umi.

Diawali dengan Nongkah

Rangkaian kegiatan yang mengusung tema Petuah, Kata dan Cinta ini diawali dengan Nongkah yang menghadirkan Duta Baca Riau, Wahyu Oktafialni, S.Sos., sebagai pembicara dengan moderator Sunting Squad, Wulandari.

Nongkah yang disiarkan langsung melalui Instagram Rumah Sunting kali ini mengusung tema Anak Muda Membaca Risau Riau. Selain berbincang dalam bentuk dialog, juga dibuka ruang diskusi baik secara langsung di lokasi acara maupun melalui media sosial. Acara juga diselingi pembacaan puisi oleh anak-anak Literasi Konservasi Rumah Sunting.

Pembacaan puisi dilaksanakan secara bergantian. Tua dan muda, semuanya membaca puisi. Ada Muhammad Asqalani EnEste, Bambang Kariyawan, Ahlul Fadli, Umi Kulsum, bahkan anak-anak yang hadir.

Penerima Santunan

Rumah Sunting berhasil mengumpulkan 18 nama anak-anak yatim dari keluarga seniman dan pegiat seni. Selain di Pekanbaru, sebagian berasal dari Kabupaten Kampar. Selain uang tunai, mereka juga menerima bingkisan.

Dari 18 anak yatim tersebut, beberapa di antaranya tidak dapat hadir karena berhalangan. Meski demikian, Rumah Sunting akan segera mengirimkan titipan dari para donatur tersebut.

Anak-anak tersebut antara lain anak dari almarhum Adepura Indra, seniman teater Riau asal Indragiri Hulu, yakni Prakacita Adwitiya, Al Qusnah, dan Khalid Biru Fatindra. Ada pula Abidah, putri almarhum Sunardi atau Edy, koreografer sekaligus founder Sanggar Sri Melayu, serta Joe Arkin, putra almarhum Rorry Hendra Saidina atau Itoy, seorang pemusik.

Selain itu, ada anak-anak dari almarhum Kasmono, seniman teater asal Kampar Kiri, yaitu Zizi, Geo, dan Altaf. Ada juga Ardiansyah Nur, putra Ardesnur; Qiara Nur Hafiza, putri almarhum Ardesnur (Siak Hulu); Nopal dan Ripal, putra almarhum Burhan (Kampar); serta Adit dan Rima, anak Ramli.

Adapun donatur yang turut berbagi santunan ini yakni Boy Even Sembiring, Eko Yunanda, Dewi Fianna Sari, Umi Kulsum, dan Bambang Kariyawan, Supriyadi, Indra, S.E., M.B.A., Nofrita Delly, serta Walhi Riau.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait