Di RBC, Tradisi Bertemu Rasa Ingin Tahu

PojokTIM — Ada yang berbeda di Rumah Baca Ceria (RBC). Ruang yang biasanya dipenuhi buku dan anak-anak yang tenggelam dalam bacaan, Rabu (8/4/2026) berubah menjadi ruang percakapan yang hangat. Sepuluh mahasiswi STIKES Mitra Keluarga datang membawa satu hal: rasa ingin tahu.

Mereka duduk melingkar, mendengar sekaligus menggali cerita dari Rissa Churria—pendidik, penyair, prosais, pelukis, esais, dan pengamat budaya—yang siang itu hadir sebagai narasumber. Topiknya sederhana, namun menyimpan kedalaman: budaya dan tradisi pengobatan masyarakat Jawa.

Percakapan mengalir tanpa sekat. Dari daun sirih yang dikenal sebagai antiseptik alami, hingga sirih cina yang dipercaya memiliki khasiat penyembuhan. Dari hal-hal yang kasat mata hingga yang menyentuh ranah kepercayaan, seperti praktik menyimpan dan mengeringkan plasenta atau tali pusat dalam tradisi Jawa.

Pengobatan tradisional, sebagaimana mengemuka dalam diskusi, bukan semata soal sembuh atau tidak. Di dalamnya terkandung nilai, keyakinan, serta cara pandang hidup yang diwariskan lintas generasi.

Rissa pun berbagi pengalaman personal. Ia mengaku masih menggunakan cara-cara sederhana berbasis herbal. Misalnya, saat disengat lebah, ia cukup mengoleskan bawang putih yang telah digeprek pada bagian kulit yang terkena.

Suasana berlangsung cair tanpa kesan menggurui. Percakapan tumbuh dua arah—mahasiswi bertanya, narasumber bercerita, lalu bersama-sama merangkai pemahaman.

Sepuluh mahasiswi yang hadir dalam kegiatan ini adalah Amrina Rosyada Annabilah, Aliza Nur Zahira, Alfiana Rahmawati, Laura Cintya Bella, Kilam Laing, Fanisa Marco Juliana, Siti Nazhella, Savira Rizky Aulia, Shaista Azzahra, dan Nazwa Kafka Nafisa.

Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, pertemuan semacam ini terasa kian penting. Bukan sekadar mengumpulkan data untuk tugas kuliah, melainkan juga merawat ingatan—bahwa di balik setiap ramuan, tersimpan cerita panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

RBC hari itu membuktikan satu hal: literasi tak selalu hadir dalam bentuk buku. Ia juga hidup dalam percakapan, dalam ingatan yang dibagikan, dan dalam tradisi yang terus diceritakan ulang.

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait