PojokTIM — Semangat persahabatan budaya antara Indonesia dan India terasa hangat di Gedung Wayang Kedutaan Besar India, Kuningan, Jakarta, Minggu (10/5/2026), ketika Asian Literary Society (ALS) menggelar acara bertajuk 6th ALS Caravan. Kegiatan tersebut mempertemukan para sastrawan, penyair, pegiat budaya, dan pencinta literasi dari kedua negara dalam sebuah forum sastra yang dipenuhi diskusi, pembacaan puisi, dan gagasan kerja sama budaya lintas negara.
Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WIB itu sangat kental dengan nuansa India. Acara juga dibuka dengan prosesi menyalakan lampu (diya) yang melambangkan kemenangan terang atas gelap, kebaikan atas kejahatan, dan kebijaksanaan atas kebodohan. Acara berlangsung meriah sekaligus akrab, memperlihatkan bagaimana sastra mampu menjadi jembatan kebudayaan yang melampaui batas bahasa dan negara.
Kegiatan ini digagas oleh Mr. Manoj Krishnan, pendiri Asian Literary Society di India, yang selama beberapa tahun terakhir aktif membangun jaringan sastra Asia melalui berbagai kegiatan lintas budaya. Sementara pelaksanaan acara di Indonesia ditangani oleh Dr. Sonia Vashishta Oberoi, seorang penulis sekaligus pembicara motivasi yang dikenal aktif mendorong pertukaran budaya antara India dan Indonesia.
Dalam sesi diskusi, sejumlah pembicara hadir membahas hubungan sastra, kebudayaan, dan kesehatan jiwa dalam proses kreatif penulis. Pembicara yang tampil yakni Ewith Bahar dari Indonesia, Dr. Sunil Karamchandani dari ICCR (Indian Council for Cultural Relations), serta Mr. Pankaj Oberoi selaku Presiden Direktur MAG Insurance Indonesia.
Sunil Karamchandani menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan jiwa, terutama bagi para penulis dan seniman. Menurutnya, karya sastra tidak hanya lahir dari kemampuan berbahasa, tetapi juga dari kejernihan batin dan kesadaran berpikir.
“Keseimbangan tubuh dan jiwa sangat penting. Penulis membutuhkan kondisi itu agar karya yang dihasilkan diproses dengan akal sehat dan sikap objektif sehingga memiliki nilai manfaat yang maksimal,” ujar Sunil Karamchandani.
Sebagai praktisi yoga dan aktivis budaya India, Sunil Karamchandani melihat sastra memiliki hubungan erat dengan kesehatan mental manusia modern. Ia menilai dunia saat ini bergerak sangat cepat sehingga banyak orang kehilangan ruang refleksi. Dalam konteks itulah sastra dan praktik-praktik kebudayaan dinilai mampu menghadirkan ketenangan sekaligus memperluas empati.
Sementara itu, sastrawan Indonesia Ewith Bahar menegaskan bahwa kegiatan tersebut menjadi bukti eratnya hubungan budaya antara Indonesia dan India yang telah berlangsung sejak lama. Ia menyebut pengaruh sastra dan mitologi India masih dapat ditemukan dalam berbagai cerita rakyat dan tradisi budaya di Indonesia.
“Cerita rakyat Indonesia banyak dipengaruhi mitologi dan sastra India, termasuk Mahabharata. Karena itu, kegiatan seperti ini penting agar anak-anak muda semakin mengenal kebudayaan kedua negara,” kata Ewith Bahar.
Menurutnya, hubungan kebudayaan Indonesia dan India tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga hidup dalam kesenian masyarakat sehari-hari. Wayang, kisah pewayangan, hingga berbagai nama tokoh dalam tradisi Nusantara menjadi bagian dari jejak panjang hubungan tersebut.
Ewith Bahar juga berharap kegiatan sastra lintas negara semacam ini tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, melainkan berkembang menjadi kerja sama konkret di bidang literasi dan penerbitan.
Ke depan, Asian Literary Society bersama para sastrawan Indonesia dan India berencana mengembangkan berbagai proyek bersama, seperti penulisan buku puisi lintas negara, program pertukaran budaya, hingga kegiatan literasi yang melibatkan generasi muda. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang perjumpaan yang lebih luas antara penulis kedua negara.
Selain diskusi budaya dan penampilan grup tari India yang lincah dan enerjik, tarian, acara juga diisi pembacaan puisi oleh para penyair dari Indonesia dan India. Suasana menjadi semakin hidup ketika para penyair tampil bergantian membacakan karya mereka dalam bahasa yang berbeda, namun menghadirkan kegelisahan dan harapan yang serupa.
Para penyair Indonesia yang tampil antara lain Ayu Yulia Djohan, Ewith Bahar, Yon Bayu Wahyono, Devie Matahari, Sihar Ramses Simatupang, serta Diadjeng Laraswati Hanindyani. Sementara dari India hadir Manoj Krishnan, Sunil Karamchandani, Sonia Vashishta Oberoi, Shivpriya, Smriti Srivastava, dan Saraswati Ramesh.
Masing-masing penyair membawa warna tersendiri dalam pembacaan puisinya. Ada yang menghadirkan tema spiritualitas, hubungan manusia dengan alam, kerinduan pada tanah kelahiran, hingga isu kemanusiaan modern. Beberapa penyair membacakan karya dengan gaya teatrikal, sementara yang lain tampil tenang dan kontemplatif.
Acara tersebut menunjukkan bahwa sastra masih memiliki ruang penting di tengah kehidupan modern yang semakin digital dan serba cepat. Pertemuan lintas budaya seperti ALS Caravan tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya sastra, tetapi juga ruang dialog kemanusiaan.

Menyalakan diya sebelum acara dimulai. Foto: PojokTIM
Para pembaca puisi dan penyair yang telah berkontribusi dalam pembuatan buku antologi puisi seperti Willy Ana, Nanang R Supriyatin, Julia Basri, Fanny Jonathan Poyk, Ireng Halimun, Herman Syahara,Giyanto Subagio, Rissa Churria, Dyah Kencono Puspito Dewi, Khairani Piliang, dan lain-lain, mendapat sertifikat. Acara ditutup dengan sesi foto bersama seluruh peserta dan dilanjutkan dengan menyantap kudapan khas India.
Di tengah perbedaan bahasa dan latar budaya, para sastrawan yang hadir menunjukkan satu kesamaan: keyakinan bahwa sastra masih mampu menjadi bahasa universal yang mendekatkan manusia.
Melalui 6th ALS Caravan, Asian Literary Society kembali menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan sastra Asia yang mendorong dialog budaya dan kolaborasi kreatif. Di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh politik, identitas, dan teknologi, sastra hadir sebagai pengingat bahwa manusia tetap membutuhkan percakapan, empati, dan imajinasi untuk saling memahami.
Sebagai catatan, ke depan dalam sesi diskusi ada baiknya panitia menyediakan penerjemah bahasa karena tidak semua peserta dari Indonesia memahami bahasa India maupun bahasa Inggris.





