Tradisi Gowok dalam Diskusi Novel Nyi Sadikem

PojokTIM — Sebagai sebuah novel berlatar belakang peristiwa masa lampau, Nyi Sadikem karya Artie Ahmad terasa istimewa karena tidak ditulis secara tunggal dari sudut pandang pihak yang superior. Pergulatan batin tokoh Elizabeth van Kirk, seorang perempuan keturunan (Indo-Noni) yang dalam perjalanan hidupnya mengalami metamorfosis identitas—berubah nama menjadi Murni, hingga akhirnya disapa sebagai Nyi Sadikem—menjadi fokus perhatian yang memikat.

“Mungkin karena sikap inferior pribumi, Noni menjadi gowok yang diperebutkan oleh kaum laki-laki,” ujar Areispine Dymussaga Miraviori (Aga), seorang akademisi dan peneliti independen, saat membedah novel tersebut pada acara diskusi sastra dan budaya bertajuk BERTEMU DI CIKINI yang digelar Jumat (25/9/2026) sore di Ruang/Selasar Akademi Jakarta, Lantai 14 Gedung Ali Sadikin, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat.

Acara yang dipandu oleh Erna Winarsih Wiyono ini juga menghadirkan pembicara Sofyan RH Zaid, sastrawan dan aktivis sastra.

Novel Nyi Sadikem memotret rentetan sejarah kolonial dari sudut pandang personal seorang perempuan. Karya ini menghadirkan benturan kompleks antara kolonialisme, ras, kelas sosial, politik tubuh, kekerasan gender, hingga pencarian identitas. Pengalaman personal Nyi Sadikem membuka ruang untuk membaca ulang sejarah dari balik layar, menyuarakan kesaksian orang-orang yang selama ini terpinggirkan dari narasi utama sejarah resmi.

“Kisah tentang Murni menekankan adanya proses negosiasi identitas, ras, dan kelas yang rumit antara masyarakat Indo dan Pribumi, serta mempertanyakan bentuk-bentuk posisi inferioritas yang selama ini melekat pada narasi sejarah kolonial,” urai Aga.

Sementara itu, Sofyan RH Zaid menyoroti daya pikat penceritaan novel ini dengan meminjam pisau analisis teori sastra Milan Kundera. Menurutnya, Artie Ahmad berhasil menghidupkan psikologi karakter Sadikem sebagai sosok perempuan Indo secara apik. Sofyan juga menegaskan pentingnya kekuatan narasi di tengah masyarakat modern yang sering kali lebih tergiur oleh tumpukan informasi mentah ketimbang kedalaman cerita.

Lebih jauh, diskusi juga mengupas latar tradisi lokal yang menjadi fondasi penceritaan, salah satunya mengenai pranata sosial Gowok. Secara harfiah, gowok merujuk pada lubang di pohon tempat burung bersarang. Namun, dalam konteks tradisi Jawa kuno, Gowok adalah sosok perempuan dewasa yang diserahi tanggung jawab melatih pemuda bangsawan (priyayi) sebelum melangkah ke jenjang pernikahan.

“Gowok memiliki peran untuk memberikan pemahaman anatomi tubuh dan seni bercinta berbasis kitab tradisi kuno secara benar agar pemuda tidak melangkah keliru di tengah tabunya pembahasan seksualitas,” ujar Sofyan.

Selain itu, Gowok bertindak sebagai guru yang melatih calon suami agar mampu menjadi pembimbing rumah tangga yang menghargai hak-hak perempuan, mengontrol emosi, dan berkomunikasi dengan lembut—termasuk memastikan calon pemimpin keluarga tersebut siap secara fisik dan mental guna menjaga martabat serta keharmonisan keluarga bangsawan.

Kegiatan diskusi budaya ini diselenggarakan oleh Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM) berkolaborasi dengan Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), serta didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Penguatan Komunitas Sastra 2026.

Program BERTEMU DI CIKINI berlangsung selama tiga hari dengan menghadirkan rangkaian acara yang padat, meliputi 5 sesi acara yakni 4 kali bedah buku plus satu kali kuliah umum dengan menghadirkan 9 narasumber dan 4 Pemandu Diskusi

Mengusung tema besar “Kisah Revolusi dalam Sastra Indonesia”, program ini mengajak publik untuk membaca dan mempercakapkan kembali bagaimana Revolusi Kemerdekaan Indonesia menjadi semesta penceritaan dalam karya-karya sastra tanah air.

Turut hadir dalam pembukaan dan rangkaian acara tersebut antara lain anggota Komite Sastra DKJ Martin Suryajaya dan Esha Tegar Putra, Ketua Jagat Sastra Milenia Riri Satria, serta puluhan sastrawan, akademisi, dan penikmat sastra Jakarta.

 

Bagikan ke Media Sosial

Pos terkait